Trip : Puncak Kaba yang ke Tiga

Heii heii heiii

Senang sekali rasanya berkesempatan untuk bisa mendaki Puncak Bukit Kaba lagi. Pendakian kali ini aku bersama dengan orang yang berbeda dari dua perjalanan sebelumnya. Sebut saja namanya Bey, si manusia yang suka ga inget kalo dia mendaki bersama seorang anak manusia lainnya, bukan sendirian. Pergerakan Bey yang lincah membuatku sedikit kewalahan mengikuti ritme langkahnya. Meskipun aku lamban tapi Bey tetap setia menungguku jika aku tertinggal di belakang. Thank you, bey hihi

Kami berangkat sekitar pukul 6.30 pagi. Jarak dari rumah ke kaki bukit tidak jauh, hanya sekitar 1 jam perjalanan menggunakan motor. Sepanjang perjalanan aku dan Bey menikmati udara pagi yang masih segar tanpa polusi, embun yang menyapa genteng dan dedaunan, matahari terbit yang sinarnya seolah menghangatkan kami selama diperjalanan. Sebelum mendaki tak lupa kami menyempatkan diri untuk mampir membeli bekal makan siang yang rencananya mau kami makan di atas dan beberapa cemilan untuk kami makan di jalur pendakian. Tentunya dengan tetap menjaga lingkungan, sampah bekas makanan kami masukkan kembali ke dalam tas masing-masing

Sesampainya di basecamp pendakian, aku segera memarkirkan motor dan membayar administrasi. Setelahnya kami bersiap untuk mulai petualangan ini hihiwww.

Pendakian ini kami awali dengan berdo'a bersama, berharap pergi dan pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Aamiin. Selanjutnya kami mulai menapaki jalur pendakian selangkah demi selangkah. Di trek awal, jalanan masih mulus karena jalurnya masih semen. Lalu di beberapa langkah berikutnya kami mulai memasuki hutan. Trek hutan di awali dengan menyebrangi anak sungai yang airnya tidak terlalu deras. Di depan sana sudah terlihat pintu masuknya yang di kenal dengan Pintu Rimba. Tak lupa kami mengabadikan momen disini. Aku berpikir "Kayaknya aku harus mengabadikan momen disini, walaupun tidak sampai puncak setidaknya sampai di Pintu Rimba. Lumayan untuk kebutuhan konten hehehe" 

Pintu Rimba

Setelah mengabadikan momen di pintu rimba, kami melanjutkan perjalanan. Sebenarnya aku dan bey baru kenal beberapa minggu saja waktu itu. Awalnya aku sedikit meragukan diriku, apakah tak apa jika pergi berdua saja? Bukan karena takut tersesat atau ketemu hewan buas di hutan, tapi takut akan kehabisan bahan obrolan karena pergi hanya berdua dan belum terlalu lama kenal. Tetapi aku salah, justru karena belum banyak yang di obrolin membuat kami tidak kehabisan topik pembicaraan, ada saja yang di bahas. Mulai dari pekerjaan, hobi, sampai kriteria pria idaman haha. Ternyata kami bisa ngobrol dari bawah sampai atas hingga pulang ke bawah lagi tanpa kehabisan bahan obrolan sedikitpun hihi, bravo, bey!

Selama berjalan di hutan, Bey yang memimpin perjalanan. Sesekali dia menungguku yang sedikit ngos-ngosan dan memberikan kami waktu untuk beristirahat dan minum. Tak lupa kami juga mengambil dokumentasi lagi selama berjalan. Lagi-lagi kebutuhan konten xixi

Jepret penghilang lelah :P

Oh iya bukit kaba ini memiliki ketinggian 1.952 MDPL. Jarak tempuh perjalanannya kurang lebih 2-3 jam. Dan selain jalur hutan yang digunakan untuk berjalan kaki, ada juga jalur aspal yang bisa digunakan untuk naik ojek atau untuk mengunjal barang bawaan jika dirasa terlalu berat hehe. Kalau kamu lebih tertarik mendaki melalui jalur mana?

Ada yang selalu menarik perhatianku jika mendaki bukit kaba. Aku selalu penasaran dan bertanya-tanya dengan lokasi yang dinamai Tebing Cengeng "Kenapa tebing cengeng?" pikirku. Ada yang bilang bahwa dinamakan Tebing Cengeng karena tebing yang tidak tinggi ini memiliki jalur yang bisa membuat menangis sebagian pengunjung pada musim hujan, karena trek akan menjadi licin huhuuu. So buat kamu yang mau melakukan pendakian di Bukit Kaba, tidak disarankan disaat cuaca sedang tidak bagus yaa ;)


Foto diatas tebing cengeng, cakep ya?

Dari bawah kami hanya membawa perlengkapan seperti hydropack, Trekking pole dan menggunakan sepatu gunung. Mari kita cek bawaan dan isi antara tasku dan tas Bey. Tas Gie berisi 2 bungkus nasi, 2 botol minum, cemilan, dan dompet. Sedangkan tas bey berisi HP, bedak, liptint, kaca dan parfume. Ckckck terlihat sekali ketimpangannya bukan?  >_<

Lanjut....

Kami terus menyusuri hutan, meski letih kami tidak memilih untuk berhenti. Sambil berjalan, aku memikirkan sebuah hal, yang katanya "hidup itu seperti mendaki gunung". Lalu aku mulai meresapi maknanya dibaliknya. Ketika di awal perjalanan, kita memulai perjalanan dengan penuh semangat, membawa banyak harapan dan rencana tentang puncak yang ingin ditaklukkan. Langkah awal masih terasa ringan, puncak terlihat jelas dan dekat. 

Akan tetapi, semakin jauh melangkah, jalan mulai menanjak, nafas terasa berat dan langkah kian melamban. Tak jarang keraguan datang, "apakah aku masih di jalur yang benar?". Ada kala nya kita harus berhenti, bukan karena menyerah tapi tubuh butuh di beri jeda untuk beristirahat. Dalam pendakian aku belajar bahwa tidak semua orang berada di dalam ritme langkah yang sama. Tak perlu membandingkan kecepatan diri dengan orang lain, karena itu hanya akan menguras tenaga. Yang penting tetap mau bergerak sekecil apapun langkahnya. 

Ketika kabut turun menghalangi pandangan seolah membuat kita ragu tentang seberapa lama lagi perjalanan ini akan di tempuh. Tapi justru disaat seperti inilah kesabaran dan kepercayaan kita di uji untuk percaya bahwa setiap langkah membuat kita lebih dekat meski belum terlihat hasilnya 

Mendaki gunung mengajariku banyak hal, bukan hanya bagaimana aku memaknai ini sebagai sebuah perjalanan tapi juga cara pandangku melihat kehidupan. ceileeee :v

Lelah di perjalanan seolah terbayarkan ketika puncak Bukit Kaba mulai terlihat. Langkahku yang semula berat tiba-tiba terasa lebih ringan, seiring semangat yang perlahan kembali terkumpul. Meski kami sudah berada di Kubah satu langkah belum berhenti. Bukan karena rasa penasaran yang baru, sebab kami sudah pernah melihat kawah itu sebelumnya, tetapi karena ada kepuasan tersendiri dalam kembali menuntaskan perjalanan menyapa tempat yang sama, dengan diri yang mungkin sudah sedikit berbeda.

Beberapa dokumentasi di atas Puncak Bukit Kaba

Ceritanya belum selesai, kami masih akan melakukan pendakian ini hingga Tangga Seribu dan melihat kawahnya. Nantikan lanjutan ceritanya di postingan selanjutnya ya, sobat!


Doakan aku ya sobat, agar setiap langkah di bumi Allah yang luas ini bukan hanya sekadar perjalanan, melainkan ruang tafakur untuk semakin mengenal kebesaran-Nya.

Billahi fii sabililhaq fastabiqul khoirot

Gie.










Komentar

  1. Wahhhh tulisannya rapi sekali mbak jiyel,
    Terusin nulisnyaa sampai bukunya terbit 🔥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihiii Thank you udah sempetin baca yaa.
      Aamiin, tolong do'akan semoga suatu hari nanti aku bisa meluaskan kebermanfaatanya melalui tulisan, ya

      Hapus
  2. Keren sekeli dx.. Tulisannya rapi dan alurnya menyenangkan untuk dibaca sampai habis. Benar filosofi nya. Hidup itu sperti mendaki gunung. Butuh perjuangan untuk sampai ke puncak..

    Btw, jadi penasaran lewat pintu rimba itu. Itu jalan yang berbeda dari yang pernah kita lewati dulu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hei heii ada seniorku, thank you udah sempetin bacaa ya mbak.

      Iya bener mbak, itu jalan yang perna kita lewati bersama pada masanya wkwk

      Hapus
  3. seru dan menyenangkan sekali ceritanya. Jadi bahan pertimbangan untuk pergi dengan orang baru yang ternyata tidak seburuk itu. Salam kenal, gie. Nice to know you

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo, terima kasih udah sempetin mampir ke blog absurd ini yaaa.

      Iya nih, pergi dengan orang yang baru di kenal ga semenakutkan itu ternyata hehe. Tapi next time aku mau coba pergi sendiri, mungkin bisa lebih seru karena bisa deep talk sm diri sendiri ? LoL :v

      Hapus
  4. jujur bagian yang hidup seperti mendaki gunung bener banget sih wwkk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Self Acceptance

Dia yang bernama Pupuw