Postingan

Trip : Puncak Kaba yang ke Tiga

Gambar
Heii heii heiii Senang sekali rasanya berkesempatan untuk bisa mendaki Puncak Bukit Kaba lagi. Pendakian kali ini aku bersama dengan orang yang berbeda dari dua perjalanan sebelumnya. Sebut saja namanya Bey, si manusia yang suka ga inget kalo dia mendaki bersama seorang anak manusia lainnya, bukan sendirian. Pergerakan Bey yang lincah membuatku sedikit kewalahan mengikuti ritme langkahnya. Meskipun aku lamban tapi Bey tetap setia menungguku jika aku tertinggal di belakang. Thank you, bey hihi Kami berangkat sekitar pukul 6.30 pagi. Jarak dari rumah ke kaki bukit tidak jauh, hanya sekitar 1 jam perjalanan menggunakan motor. Sepanjang perjalanan aku dan Bey menikmati udara pagi yang masih segar tanpa polusi, embun yang menyapa genteng dan dedaunan, matahari terbit yang sinarnya seolah menghangatkan kami selama diperjalanan. Sebelum mendaki tak lupa kami menyempatkan diri untuk mampir membeli bekal makan siang yang rencananya mau kami makan di atas dan beberapa cemilan untuk kami makan di...

Dia yang bernama Pupuw

Gambar
 13 November 2020    Siang itu, Kota Bengkulu terasa jauh lebih panas dari biasanya. Matahari seperti menggantung rendah, membakar aspal jalanan dan membuat udara bergetar oleh teriknya. Kami baru saja akan berangkat melakukan  liputan pagi sebagai bagian dari kegiatan magang di sebuah TV lokal. Hari itu cukup padat diawali dengan sarapan yang terburu buru, proyeksi, persiapan liputan, wawancara, dan perjalanan ke berbagai titik kota.      Disinilah kami sekarang, berada di salah satu Instansi Pemerintah yang berada di kota ini, Dinas PU. Kami melaju pelan melewati satu per satu lampu merah yang seolah menjadi ritme perjalanan kami. Ketika akhirnya tiba di halaman Dinas PU, kami langsung menuju tempat parkir di bawah pohon besar yang memberikan sedikit teduh di tengah cuaca yang menyengat.      Sesaat setelah memarkirkan motor, aku melihat s eekor kucing kecil berwarna hitam putih duduk sendirian di kolong mobil. Bulunya kusut dan kotor...

Puan di pasir putih

  Setelah memarkirkan motor di parking area , aku berjalan menyusuri jalan menuju pantai. Ku tapaki kakiku untuk lebih dekat ke bibir pantai. Pohon cemara, deburan ombak, kapal para nelayan yang sedang menepi dan burung burung yang menari di ranting-ranting cemara, ramai. Aku memilih berteman dengan bisingnya deburan ombak sambil duduk di bawah teduhnya pohon cemara dengan   angin yang membelai tiap tiap helai dari rambutku. Bagiku, pantai adalah tempat yang paling magis yang pernah aku temui. Aku senang mendengar suara riuhnya angin dan deburan ombak yang seakan bersahutan. Mereka seolah memberi ketenangan tersendiri bagiku. Mungkin aku terlalu kesepian, sehingga untuk mencari bahagia aku harus ke pantai menemui ombak, angin dan burung burung yang sudah pasti dapat menemani aku hingga aku kebosanan sendiri. Kuamati sisi kanan dan kiri ku, terdapat beberapa pondokan yang masih kosong. Tepat di bibir pantai, aku melihat delman yang baru saja berhenti untuk menurunkan penumpan...

Bucket List

Aku ingin menjadi pasangan dan seorang ibu yang seperti apa ? Tiba tiba terlintas pertanyaan itu dikepalaku. Kalau ditanya aku ingin menjadi psangan dan seorang ibu yang seperti apa, hmmm kira-kiraa jawaban seperti apa yaa yang bisa aku berikan ?  Baiklah aku akan menjabarkan semuanya disini. Meskipun aku tidak tau yang manakah yang akan datang menjemputku lebih dulu, pernikahan?, ataukah kematian ? Aku Gie. Seorang hamba Allah yang sedang dalam masa penantian. heuheuheu. Entah penantian apa yang ku maksudkan disini, penantian pernikahan atau penantian kematian, yang jelas keduanya butuh dipersiapkan. Aku sangat suka dengan diriku yang saat ini. Aku suka diriku yang sedang semangat-semangatnya belajar. Aku suka dengan diriku  yang bisa meregulasi emosi dengan baik, dan aku suka dengan diriku yang bisa berpikiran dewasa. Dan, ya! Aku sudah dewasa! Meskipun nanti kematian yang akan menjemputku lebih dulu, bukan berarti persiapan untuk pernikahan akan menjadi sia sia kan? Bukanka...

Self Acceptance

"Sudahkah selesai dengan diri sendiri?" Belakangan ini kalimat itu terus terngiang di kepalaku seakan menuntutku untuk menyelami hal ini lebih dalam.      Hallo, Aku gie. Manusia yang 6 tahun terakhir sering mengunjungi psikolog untuk terus berusaha melanjutkan hidup. Apa yang kamu pikirkan tentangku setelah aku mengatakan kalimat itu?hehe         Aku adalah manusia yang dengan sadar melangkahkan kaki ke Klinik Psikologi untuk sekedar mengeluarkan keresahanku atau meminta bantuan tentang apa yang mengganjal di hati dan pikiranku.      Sebenarnya aku selalu bertanya tanya, apakah sebenarnya manusia itu bisa selesai dengan dirinya sendiri?     Beberapa waktu yang lalu a ku memutuskan untuk kembali menghubungi psikolog, karena kalimat selesai dengan diri sendiri ini terus berputar dikepalaku. Seperti biasa, sesi konsultasi diawali dengan mba psikolog bertanya tentang kabarku dan bagaimana aku melalui hari hari setelah se...