Puan di pasir putih

 

Setelah memarkirkan motor di parking area, aku berjalan menyusuri jalan menuju pantai. Ku tapaki kakiku untuk lebih dekat ke bibir pantai. Pohon cemara, deburan ombak, kapal para nelayan yang sedang menepi dan burung burung yang menari di ranting-ranting cemara, ramai. Aku memilih berteman dengan bisingnya deburan ombak sambil duduk di bawah teduhnya pohon cemara dengan  angin yang membelai tiap tiap helai dari rambutku. Bagiku, pantai adalah tempat yang paling magis yang pernah aku temui. Aku senang mendengar suara riuhnya angin dan deburan ombak yang seakan bersahutan. Mereka seolah memberi ketenangan tersendiri bagiku. Mungkin aku terlalu kesepian, sehingga untuk mencari bahagia aku harus ke pantai menemui ombak, angin dan burung burung yang sudah pasti dapat menemani aku hingga aku kebosanan sendiri.

Kuamati sisi kanan dan kiri ku, terdapat beberapa pondokan yang masih kosong. Tepat di bibir pantai, aku melihat delman yang baru saja berhenti untuk menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang lainnya. Orang-orang terlihat bahagia ketika pergi ke pantai. Bukankah pilihanku mencari ketenangan dan kebahagian ke pantai merupakan pilihan yang sangat tepat?

Hampir setahun, setiap sore, aku duduk di pinggiran pantai. Bercerita apapun kepada angin. Pernah suatu hari aku bercerita tentang mengapa aku selalu sendiri. Tanpa sadar aku menumpahkan air mataku disini, di pantai ini yang ku katakan bahwa tempat ini yang membuatku tenang.

“Kita bertemu lagi, puan.

“Apakah kau sedang berbicara denganku?”

“Tentu saja, bukankah kau tidak melihat ada manusia lain selain kau dan aku disini? Tentu  saja aku berbicara dengan puan”

“Apakah kau menguntitku? Aku tidak suka diikuti jika kau ingin tau”

“Hanya berjaga-jaga agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan”

“Maksudmu?”

“Ah tidak, lupakan saja. Hmmm Kau sebenarnya tidak benar benar hanya mencari ketenangan disini, bukan?”

“Maksudmu?” ia menjawab tanpa menatap orang yang bertanya

“Bukankah itu hanya alibi mu saja? Sebenarnya kau tidak membutuhkan pantai tetapi kau sedaang menunggu kedatangan seseorang untuk kembali”

“Jangan sok tau, yang sudah pergi mana mungkin akan kembali?”

“Kata katamu barusan menunjukkan bahwa kau masih mengharapkan kembalinya seseorang”


 

Komentar

  1. Puan pun menjawab “Pradugamu bisa saja salah… bahkan aku masih saja berusaha mengenali diriku sendiri, tugasmu berbagi indah untuk sepiku, selebihnya simpan dalam apapun yang menjadi lukaku lewat debur ombakmu”

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Self Acceptance

Trip : Puncak Kaba yang ke Tiga

Dia yang bernama Pupuw