Bucket List

Aku ingin menjadi pasangan dan seorang ibu yang seperti apa ?

Tiba tiba terlintas pertanyaan itu dikepalaku. Kalau ditanya aku ingin menjadi psangan dan seorang ibu yang seperti apa, hmmm kira-kiraa jawaban seperti apa yaa yang bisa aku berikan ?  Baiklah aku akan menjabarkan semuanya disini. Meskipun aku tidak tau yang manakah yang akan datang menjemputku lebih dulu, pernikahan?, ataukah kematian ?

Aku Gie. Seorang hamba Allah yang sedang dalam masa penantian. heuheuheu. Entah penantian apa yang ku maksudkan disini, penantian pernikahan atau penantian kematian, yang jelas keduanya butuh dipersiapkan. Aku sangat suka dengan diriku yang saat ini. Aku suka diriku yang sedang semangat-semangatnya belajar. Aku suka dengan diriku  yang bisa meregulasi emosi dengan baik, dan aku suka dengan diriku yang bisa berpikiran dewasa. Dan, ya! Aku sudah dewasa!

Meskipun nanti kematian yang akan menjemputku lebih dulu, bukan berarti persiapan untuk pernikahan akan menjadi sia sia kan? Bukankah Allah tidak pernah menciptakan segala sesuatu secara sia sia melainkan ada maksud dan tujuannya ?

Baiklah, mari kita kembali ke topik awal dengan pertanyaan "Jika menjadi seorang pasangan dan orang tua, aku ingin menjadi istri dan ibu yang seperti apa?". Aku suka dengan pertanyaan ini, sependek dari beberapa hal yang aku pelajari dann temui, ada beberapa hal yang ingin aku realisasikan nanti jika Allah memberikanku kesempatan untuk mengemban amanah ini.

Sebelumnya aku ingin bercerita sedikit mengenai latar belakang keluargaku. Aku  terlahir dari kedua orang tua yang sangat baik, arif dan bijaksana. Namun, dalam beberapa hal aku memiliki pandangan yang berbeda terhadap orang tuaku. Dan bukan berarti dengan aku menyebutkan keinginanku disini membuat mereka menjadi "belum cukup baik" sebagai orang tuaku. Orang tuaku telah membesarkanku dengan penuh kasih dan sayang, mencukupi semua kebutuhanku dari yang terlihat dan tak terlihat sama sekali hhihi, how lucky i'm. Maa Syaa Allah

Sambil senyum-senyum sendiri aku menulis ini dan berpikir apa yang harus aku jawab terkait pertanyaan itu. Baikklah tanpa memperpanjang paragraf lainnya aku akan mulai menjabarkannya disini.

Mungkin, kehidupan pernikahan adalah kehidupan yang didambakan oleh banyak orang atau bagi orang-orang yang serius untuk menyempurnakan separuh agamanya atau bagi orang yang memang sudah benar-benar siap untuk menikah. Setelah menikah nanti, bahkan sejak sebelum menikah, aku sudah memiliki komitmen dengan diriku sendiri. Nanti aku ingin menjadi pasangan yang baik untuk suamiku, menjadi penyejuk hati, support system terbaik dan tempat pulang ternyaman baginya. Aku ingin kelak bisa menjadi sebaik baiknya tempat untuk dia mencurahkan segala kegelisahannya setelah Tuhannya. Tentu saja suamiku harus menjadi hamba kesayangan Allah yang selalu menomor satukan Allah di segala aspek kehidupannya. Aku ingin menjadi satu satunya bagi suamiku dan aku juga akan menjadikan suamiku sebagai satu satunya, bukan salah satunya. In Syaa Allah

Jika menjadi seorang ibu, aku ingin menjadi "Al ummu madrasatul ula" aku ingin menjadi semua yang pertama baginya. Nanti, aku ingin aku lah yang mengajari kata pertama bagi anakku. Mengajaknya berinteraksi, membacakannya buku dan mengajaknya berbicara sejak dari dalam kandungan. Nanti aku akan menyediakan semua apa yang dibutuhkan oleh anakku. Aku harus bisa mengajarkan anakku tentang apa itu kebutuhan dan keinginan. Ketika anakku dihadapkan dengan masalah, aku ingin ia mampu menceritakan semua hal yang terjadi degannya padaku dan tidak memendam semua masalahnya sendiri. 

Nanti, ketika aku sudah berkeluarga aku ingin tetap bisa berpenghasilana dan berkarya. Aku ingin mewujudkan apa yang selalu aku cita-citakan, menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semoga Allah meridhoi apa yang menjadi inginku ini. Aamiin Ya Mujibassailin. 

Ya Allah, izinkan aku bersama seseorang yang baik agamanya, yang baik akhlaknya, yang bisa membimbingku kepada kebaikann, punya semangat dan etos kerja yang sejalan, penuh kasih sayang untukku dan keluargaku, setia, sabar dan dewasa dalam menyikapi perbedaan,  yang bertanggung jawab, asik diajak ngobrol dan nyambung diajak diskusi, support terhadap semua mimpi dan cita-citaku, tidak menggurui tapi mau berjalan sejajar, lembut dalam bersikap tegas dalam tujuan, menerimaku dengan semua luka dan prosesku, yang tetap tinggal meskipun sedang ada masalah, sama sama suka traveling biar bisa explore bumi Allah yang luas ini bareng, memiliki visi misi yang sama dalam membangun rumah tangga yang tenang, hangat dan saling support dalam kebaikan. Aamiin yaa mujibassailin.....

Tapi bagaimana jika kematian yang terlebih dulu yang menjemputku?
Izinkan aku meminta maaf kepadamu, yang membaca ini dan sampaikan permintaan maafku kepada semua orang yang mengenalku. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan dan aku berdo'a kepada Allah semoga Allah menyembuhkan  hati-hati yang pernah aku patahkan karena tanganku tak cukup sampai untuk merawatnya

Do'akan aku agar bisa jadi hambanya yang lebih baik lagi ya, sobat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Self Acceptance

Trip : Puncak Kaba yang ke Tiga

Dia yang bernama Pupuw