Dia yang bernama Pupuw

 13 November 2020

  Siang itu, Kota Bengkulu terasa jauh lebih panas dari biasanya. Matahari seperti menggantung rendah, membakar aspal jalanan dan membuat udara bergetar oleh teriknya. Kami baru saja akan berangkat melakukan  liputan pagi sebagai bagian dari kegiatan magang di sebuah TV lokal. Hari itu cukup padat diawali dengan sarapan yang terburu buru, proyeksi, persiapan liputan, wawancara, dan perjalanan ke berbagai titik kota.
    Disinilah kami sekarang, berada di salah satu Instansi Pemerintah yang berada di kota ini, Dinas PU. Kami melaju pelan melewati satu per satu lampu merah yang seolah menjadi ritme perjalanan kami. Ketika akhirnya tiba di halaman Dinas PU, kami langsung menuju tempat parkir di bawah pohon besar yang memberikan sedikit teduh di tengah cuaca yang menyengat.
    Sesaat setelah memarkirkan motor, aku melihat seekor kucing kecil berwarna hitam putih duduk sendirian di kolong mobil. Bulunya kusut dan kotor, tubuhnya kurus, tetapi matanya, dua mata kecil itu memiliki cahaya yang anehnya menenangkan. Ia tidak meong keras, hanya mengeluarkan suara lirih seolah sedang ragu untuk meminta tolong. Ketika kami mendekat, kucing itu tidak lari, malah maju perlahan dan menggesekkan kepalanya ke sepatuku.

(Dok. Pertama kali pupuw ditemukan)

    Aku memutuskan untuk membawanya pulang. Aku meyiapkan kotak kecil untuk membawanya di motor. Sesampainya di kostan, aku membersihkan tubuhnya yang kusut, memeriksa apakah ada luka, memberi makan, dan membuatnya tempat tidur dari selimut lama. Hari itu juga aku memberinya nama Pupuw, sebagai bentuk kenangan pada tempat pertama kali kami bertemu Dinas PU!
    Waktu berlalu begitu cepat. Pupuw tumbuh menjadi kucing yang sehat dan sangat manja (Kadang-kadang jadi kucing yang garang xixixi). Dia memiliki kebiasaan menggesekkan kepala ke kakiku setiap pagi, seolah memastikan semuanya baik-baik saja (Padahal itu kode untuk minta makan ya, Puw. Ahh dasar pupuw!). Saat aku pulang dari liputan, Pupuw selalu menyambut di depan pintu, kadang dengan suara meong khasnya yang pendek dan cepat, kadang dengan tatapan berbinar sambil melompat kecil, riang.
(Dok. Pupuw kecil yang sudah mulai Glow Up!)

    Ia suka tidur di pangkuanku ketika aku lembur membuat laporan. Suka menyelinap ke dalam tas kerjaku. Suka duduk di jendela, memandangi luar seolah sedang mengamati kehidupan kota. Pupuw bukan hanya hewan peliharaan dia menjadi bagian dari rutinitas, bagian dari kenyamanan, dan bagian dari rumah.
    Selama lima tahun itu, Pupuw jarang sakit. Dia aktif, ceria, dan sangat dekat dengan kami. Pada tahun kelima, Pupuw mengalami kehamilan untuk yang ke sekian kalinya. Tubuhnya mulai membesar dan langkahnya melambat. Kami mulai mempersiapkan segalanya tempat melahirkan, makanan yang lebih bernutrisi, dan lingkungan yang tenang. Pupuw sering mencari tempat yang dingin dan gelap untuk beristirahat. Menjelang melahirkan, Pupuw tampak lebih manja dari biasa, sering meminta ditemani, sering ingin tidur dekat kami. Kami menganggapnya sebagai bentuk rasa aman.

24  November 2025   

    Malam itu sangat tenang. Sekitar menujuh tengah malam, Pupuw mulai menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Nafasnya cepat, tubuhnya gelisah. Aku menemaninya dari jarak dekat, memberi ketenangan sebisa mungkin. Setelah beberapa jam, akhirnya Pupuw melahirkan anaknya yang kecil, mungil, dengan bulu yang masih basah.
    Awalnya kami lega. Anak-anaknya tampak hidup, meski sangat rapuh. Pupuw berbaring kelelahan, tetapi tidak mendekat. Kami pikir ia hanya butuh waktu. Namun seiring waktu, Pupuw malah menjauh. Ia tampak bingung, gelisah, bahkan sesekali terlihat ketakutan ketika mendengar suara anak-anaknya menangis. Pupuw tidak mau menyusui. Ia tidak mau mendekat. Kami mencoba membantu, membawa anak-anaknya ke tubuh Pupuw, tetapi Pupuw akan berpindah menjauh atau menghindar. Ia tampak bingung, seolah tidak mengenali perannya sebagai induk.
    Hari itu kami mulai sadar bahwa Pupuw mengalami kondisi baby blues setelah melahirkan. Emosi yang tidak stabil, kebingungan, dan ketakutan. Di hari Ketiga uasana rumah menjadi sangat sunyi. Pupuw hanya duduk menatap dari kejauhan, seperti tahu apa yang sedang terjadi tetapi tidak mampu merespons. Ada kesedihan dalam matanya yang sulit dijelaskan.

Hingga akhirnya, semua anak-anak Pupuw meninggal.

    Sejak anak-anaknya tiada, Pupuw seperti kehilangan sebagian dirinya. Ia tidak mau makan. Nafasnya pendek. Ia sering duduk menatap kosong ke sudut ruangan. Tubuhnya mulai melemah sangat cepat. Kami mencoba memberi makanan basah, membawanya ke tempat tidur, menghangatkannya. Kami memanggil namanya berulang-ulang. Tetapi Pupuw hampir tidak bergerak.
    Hari keempat, kondisinya memburuk. Nafasnya semakin pelan, dan Pupuw lebih sering terkulai di pangkuan kami. Kami tahu saat itu mungkin waktu Pupuw tidak lama lagi. Sore menjelang malam, Pupuw menarik napas dengan lebih berat dari biasanya, lalu tubuhnya merileks. Dalam pelukan kami, Pupuw menghembuskan napas terakhirnya. Tenang. Tanpa suara. Seakan ia pergi mengikuti anak-anaknya.
    Rumah terasa sangat berbeda tanpa Pupuw. Tidak ada lagi suara meong pendek setiap kami pulang. Tidak ada lagi langkah kecil yang mengikuti kami ke dapur. Tidak ada lagi kehangatan kecil yang biasanya hadir tanpa diminta. Pupuw menghabiskan lima tahun hidupnya bersama kami dan lima tahun itu menjadi kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Pupuw bukan sekadar kucing. Ia bagian dari perjalanan kami. Ia bagian dari cerita hidup kami.

Dan meski Pupuw telah pergi, kisahnya telah terukir dalam hidupku selamanya.
Pupuw akan selalu memiliki tempat tersendiri di ingatan dan hatiku.


 
Kaki mungil yang suka berkelana kemana mana



With all my heart,



Gie


Komentar

  1. Teruntuk pupuw yang maniiiiss, Terima kasih telah menemani hari-harinya mbak gieeeyl selama lima tahun terakhir inii, semoga di sanaa pupuw bisa berkumpul dengan anak-anaknyaa dan hidup bahagiaaa🤍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Terima kasih juga buatmu ya.Terima kasih juga tas do'anya untuk pupuw hehehe

      Hapus
  2. Siapa yang naruh bawang disini sih? Sebagai orang yang pernah berinteraksi langsung dengan pupuw aku ikut merasakan bagaimana sedihnya kehilangan. Pupuw anak baik terima kasih udah temenin Gie selama 5 tahun ini yah. Tunggu gie di pintu Surga ya puuu

    BalasHapus
  3. Bahkan adik kecil ini pun turut merindukan sapaan pupuw saat berkunjung. Sekali lagi, Puw… untuk singkat yang membekas, terima kasih untuk bahagia yang terlewati tanpa batas.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Self Acceptance

Trip : Puncak Kaba yang ke Tiga